Rabu, 30 November 2011

Fire Fighting And Safety

Kebakaran dapat terjadi akibat adanya kombinasi dari tiga faktor, yaitu :
1. Zat yang akan terbakar
2. Sumber penyalaan
3. Adanya O
Ketiga faktor tersebut sering disebut segi tiga api. Dengan memindahkan satu atau dua faktor dari ketiganya, maka bahaya kebakaran dapat dihindari. Kebakaran dapat diklasifikasikan menurut type material yang bereaksisebagai bahan bakar. Klasifikasi yang dipakai adalah sebagai berikut :

- Kelas A ; api membakar kayu, fibreglass dan alat-alat furniture
- Kelas B ; api membakar minyak pelumas dan bahan bakar
- Kelas C ; api membakar bahan bakar gas seperti LPG
- Kelas D ; api membakar logam yang mudah terbakar seperti Mg & Al
- Kelas E ; api membakar benda yang disebutkan diatas dengan tegangan listrik yang tinggi
I. SISTEM GAS INERT
I . 1. Pendahuluan
Masalah keselamatan kapal tangki memegang peranan yang sangat penting baik keselamatan baik keselamatan lingkungan akibat terjadinya pencemaran maupun keselamatan muatan dan kapal pengangkutnya sendiri atasadanya bahaya kebakaran. Ketentuan bahaya kebakaran di dalamSOLAS 1983 telah menetapkan untuk kapal tangkai minyak berukuran 20.000 DWT keatas disampaing harus dilengkapifixed deck foam system juga harus dilengkapi fixed inert gas system sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh IMO dalam rules BKI pun ditetapkan bahwa untuk kapal tangki minyak ukuran20.000 DWT keatas harus dilengkapi dengan peralatan gas inert. Notasi inert dicantumkan di belakang tanda kelasnya. Pemeriksaan periodik terhadap kapal yang mendapat notasi inert harus sesuai dengan program inert 4 BKI. Sebelum menginjak pada pelaksanaan survey sesuai inert 4 perlu dipahami dahulu ketentuan-ketentuan yang ada pada petunjuk tentang sistem gas inert yang dibuat oleh IMO.
Berikut ini diuraikan beberapa batasan mengenai gas inert:
Inertgas adalah suatu gas atau campuran bermacam-macam gas yang dapat mempertahankan kadar oksigen dalam prosentase rendah sehingga dapat mencegah terjadinya ledakan atau kebakaran.
Kondisi inert artinya suatu kondisi dimana kadar oksigen pada tangki dipertahankan dalam keadaan 8% atau kurang dibandingkan dengan jumlah folume gas yang ada pada atmosfer tangki tersebut.
Sistem gas inert adalah suatu susunan gas inert yang terdidri dari pesawat pembuuat gas inert beserta sistem distribusinya dilengkapi dengan peralatan untuk mencegah aliran balik dari gas tersebut ke kamar mesin, dilengkapi pula dengan alatpengukur yang tetap maupun dapat dipindah.
Inerting artinya memasukkan gas inert ke dalam tangkai agar terjadi kondisi inert. Purging artinya memasukkan gas inert ke dalam tangki inert dimana tangki tersebut telah ada dalam kondisi inerrt, agar terjadi pengurangan kadar oksigen sehingga apabila tangki tersebut kemasukka udara segar tidak terjadi peledakkan. Gas freeing artinya memasukkan udara segar ke dalam tangki dengan maksud menghilangkan gas beracun.
Topping Up artinya memasukkan gas inert ke dalam tangki yang telah berada dalam kondisi inert agar tekanan dalam tangki meningkat sehingga dapat mencegah adanya udara masuk ke dalam tangki
I. 2. Prinsip gas inert
Pencegahan peledakan tangki dengan sistem gas inert dicapai dengan memasukkan gas inert ke dalam tangki untuk menjaga agar kadar oksigen dalam keadaan rendah dan mengurangi gashydrocarbon di atmosfer tangki pada proporsi yang aman.
I. 2. 1 Batas dapat terbakar (flammable limits)
Percampuran antara gas hydrocarbon dan udara tidak akan menyala kecuali apabila komposisinya berada pada daerah yang kita kenal dengan fammable range, daerah inidibatasi dengan lower flammable limit dan upper flammable limit. Apabila konsentrasi gas hydro karbon berada dibawah batas dapat terbakar berarti tidak terdapat hydrocarbon yang cukup untuk menyebabkan terjadinya pembakaran, sedang apabila kadar hydrocarbon berada diatas flammable limit berarti tidak cukup udara untuk membakar. Batas daerah yang dapat terbakar pada prakteknya dari muatan minyak berisi antara satu sampai dengan 10 % dari volume gas.
I. 2. 2 Pengaruh gas inert terhadap penyalaan
Ketika gas inert ditambahkan suatu gas hidricarbon atau campuran udara , hasilnya akan menaikan konsentrasi lowerflammable limit dan akan mengurangi konsentrasi upper flammable limit.
Gambar ini menunjukkantitik yang mewakili gas hidro karbon udara dan campuran gas inert yang berada dalam sumbu X adah kandungan oksigen dan sumbu Y merupakan kandungan gas hidrocarbon.
I. 2. 3 Metode pertukaran gas
Metode pertukaran gas terdiri dari tiga macam metode, yaitu : inerting, purging, dan gas freeing. Dari ketiga metode tersebutprosesnya adalah sebagai berikut :
- Penipisan salah satu gas akibat bertabahnya gas lainnya
- Perpindahan sebagai akaibat penyelubungan
II. SUMBER GAS INERT DAN PERALATAN UTAMA LAINNYA
II.1 Sumber gas inert
Sumber gas inert dapat diperoleh dari beberapa macam sumber yaitu :
- Ketel utama
- Inert gas generator
II.1.1 Ketel
Gas inert dapat dapat dihasilkan dari gas buang dari ketel utama dan ketel bantu yang dialirkan melalui pipa setelah didinginkan dan dibersihkan. Gas buang dari mesin diesel juga dapat diproses menjadi gas inert, namun gas buang dari ketelbanyak keunggulannya sehingga banyak dipakai sebagai sumber gas inert.
Keunggulannya :
- Kandungan oksigen yang terkandung cukup rendah, 3-4% bahkan ada yang 2% jauh lebih rendah dibandingkan kandungan mesin diesel.
- Ketel dapat tetap bekerja pada saat kapal berada di pelabuhan, sehingga pada saat bongkar muat pasok gas inert dapat terjaga.
Kelemahannya :
- Gas bekas yang dihasilkan mengandung SO yang bersifat korosif
- Kotoran dan abunya banyak sehingga harus dikurangi agar tidak menyumbat
- Temperatur gas bekas ini masih cukup tinggi sekitar 300°C sehingga harus didinginkan terlebih dahulu.
II.1.2 Inert gas generator
Untuk menghasilkan gas inert dengan kualitas yang lebih baik dipakai peralatankhusus yaitu inert gas generator sebagai pengganti ketel biasa. Cara kerja gas inert hampir samadengan pembakaran pada ketel biasa, akan tetapi alatini dibuat khusus untuk membuat gas inert maka dilengkapi dengan ruang pendingin untuk menurunkan kadar SO . Jika kita memakai air laut untukpendingin maka harus di buat dari bahan tahan korosi.
Keuntungan dari pemakaianinert gas generator adalah dalam pemeliharaannya yang sederhana karena tidak perlu membongkar bagian-bagian utama.
II.2 Susunan sistem gas inert
Untuk mengetahui peralatan-peralatan yang digunakan dapat dilihat pada aliran flue gas. Flue gas setelah keluar dari ketel/inert gas generator melewati flue gas isolating valve menuju scrubber dan demister. Disini gas didinginkan dan dibersihkansebelum dialirkan menuju blower yang kemudian dialirkan melalui deck water seal, non retirn valve dan deck isolating valve sebelum masuk ke tangki muatan. Setelah blower ditempatkan katup pengatur tekanan gas untukmengatur aliran gas ke dalam tangki.
Untuk penyaluran gas inert ke dalam tangki muatan selama bongkar muat, pembuangan ballast, pembersihan tangki dan untuk menaikkan tekanan gas dalam tangki. Selama pelayaran gas inert disaluran utama geladak berjalan kedepan dari deck isolating valve keseluruh geladak diatas tangki sepanjang kapal. Dari saluran utama ke saluran cabang, kemudian masuk kebagian atas dari tangki.
II.3.SCRUBBER
Fungsi scrubber adalah mendinginkan gas dan mengeluarkan So2 dan partikel abu . Ketiga aktifitas tersebut dapat dicapai dengan cara kontak langsung antara flue gas dan air. Sebelum mencapai dasar dari scrubber gas didinginkan dengan cara melewatkan pada suatu pancaran air atau gelembugair sebelum melewat water seal, seal tersebut juga berfungsi sebagai peralatanpengaman tambahan untukmencegah terjadinya kebocoran gas dari keluaranketel apabila scrubber tersebut sedang dibuka untuk pemeriksaan maupunperawatan. Didalam tabungscrubber itu sendiri gas bergerak keatas melalui suatu aliran gas yang menurun.
Perencanaan scrubber harusdidasarkan pada pertimbangan sebagai berikut :
- Kemampuan harus sesuai dengan persyaratan SOLAS, capter 2 reg. 62
- Scrubber harus mampu memindahkan sedikitnya 90% dari So2 untuk kapal pengangkut crude, sedangkan untuk kapal pengangkut produk harus lebih tinggi.
- Bagian dalam dari peralatan ini terbuat dari material yang tahan korosi
- Effisiensi srubber dalam kondisi normal tidak boleh kurang dari 97 %
- Scrubber harus ditempatkan diatas garis air muatan penuh sehingga lubang pengering dari peralatan tersebut tidak terganggu saat kapal penuhmuatan.
- Scrubber harus dilengkapi dengan bukaan dan jendela pengamat dari kaca pada dindingnya untuk pemeliharaan dan pengamatan
II.4 BLOWER
Blower digunakan untuk mengalirkan gas yang keluar dari scrubber menujuruang muatan . Menurut SOLAS sedikitnya harus dua blower dengan kapasitas 125 % dari volume discharge kapal tersebut. Dalam prakteknya sering diusahakan agar masing masing berbeda kapasitasnya yang satu besar dan yang lainnya kecil
Blower kapasitas kecil digunakan untuk toppeing sewaktu kapal ditengah laut, dengan adanya dua blower maka apabila salah satu sedang dalam perawatan yang lainnya masih berfungsi. Casing danimpeler dari blower harus dari material yang tahan karat apabila kedua blower ter sebut berbeda kapasitasnya maka karakteristik tegangan atauvolume dan diameter pipa pemasukan / pengeluaran harus disesuaikan sehingga blower dapat dioperasikan secara paralel dan dapat mencegah terjadinya motorberhenti.
III PENGOPERASIAN INSTALASI GAS INERT
Pada umumnya perinsip dasar pengoperasian instalasi gas inert adalah :
- Start pengoperasian gas inert
- Penutupan instalasi gas inert
- Pemeriksaan alat – alat keamanan terutama instalasi sedang tertutup (pasok gas inert sedang berhenti)
III.1 PROSEDUR START ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
- Harus dicek apakah ketel ataupun generator telah memproduksi flue gas dengan kandungan oksigen 5 % ( untuk kapal-kapal lama kandungan oksigen tidak melebihi 8 % )
- Harus tersedia daya yang dapat mengoprasikan alat kontrol , alarm, dan peralatan untuk mematikangas inert.
- Pompa pasok air menuju scrubber dan deckuater sealharus senantiasa terpelihara dengan baik.
- Pengoprasian peralatan untuk menghentikan pasok air ke scrubber dan deckuarter seal harus menjalani uji petik.
- Katup pemasukan udara bersih harus diperiksa dan berada pada posisi menutup dengan baik.
- Tutup semua aliran udara menuju ke seal dan isolating valve.
- Buka flue gas isolating vaive
- Buka katup saluran masukdari salah satu blower yangdipakai untuk mengisi gas sedangkan saluran masuk dan keluar dari blowert lainnya harus dalam keadaan tertutup. Apabila blower akan dioprasikan secara bersamaan maka kedua saluran harus dibuka.
- Jalankan blower.
- Test peralatan alarm blwer.
- Buka katub untuk resirkulasi agar aliran gas tetap stebil.
- Buka katup pengatur regulating valve flue gas.
- Periksa kandungan oksigen harus kurang dari 5% dan 8% untuk kapal lama. Apabila harga tersebut dapat tercapai tutup saluran ventilasi ke atmosfer.
- Sistem siap menyalurkan gas inert kedalam tanki muatan.
III 2. PROSEDUR PENUTUPAN
- Apabila atmosfer tang telah diperiksa dimana kandungan oksigen berada tidak lebih
- Dari 8 % dan persyaratan tekanan yang dipersyaratkan telah tercapai segera tutup deck isolating valve non return valve.
- Buka ventilasi menuju udara luar (atmosfir) antara katup pengatur tekanan gas dan deck isolating valve / non return valve
- Tutup katup pengaturan tekanan gas
- Matikan Blower
- Tutup katup pemasukan / pengeluaran dari blower, Periksa cerat drams apakahtelah nampak jelas, buka saluran pencuci Blower sementara blower tersebut masih berputar pada saat motor penggerak telah dimatikan apabila waktunya telah dianggap cukup saluran air pencuci ditutup kembali
- Tutup katup isolating valve flue gas dan buka sistem seal yang berhubungan dengan idara luar
- Air didalam scrubber tower dijaga agar sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat
- Harus tetap dijaga pasok air menuju deck water seal tetap mencukupi dan alaram harus senantiasa terjaga dapat berfungsi dengan baik.
SISTIM PEMADAM KEBAKARANCO2
 Sistim pemadam kebakaran untuk perlindungan tambahan
 Co2 disimpan dalam tabung penyimpanan dalambentuk cair
 Keuntungan sistim CO2 dibanding gas lain :
1. Barang dan mesin tidak mengalami kerusakan
2. Merupakan sistim yang berdiri sendiri, tidak berpengaruh pada kerusakan pada mesin, pompa atau listrik.
 Kerugian sistom CO2 :
Kemungkinan kapasitas CO2yang disediakan tidak mencukupi untuk memadamkan api disuatu ruangan
SISTIM PEMADAM KEBAKARANDENGAN UAP
 Hanya digunakan pada tempat yang tidak terdapatorang
 Uap didapat dari ketel utama untuk kapal dengan penggerak uap atau dari ketel uap bantu pada kapal penggerak motor
 Sistim ini memakai manifold tipe utama dan pipa cabang serta keran pengontrol
 Pipa cabang dilengkapi dengan tabung atau alat pengering. Pada manifold dilengkapi tabung pengamat untuk mengetahui jika terjadi kebocoran
 Kerugian sistem uap :
1. Kemungkinan terjadi kerusakan pada barang akibat uap dan embun
2. Uap yang disediakan mungkin tidak selalu segerasiap
3. Resiko meledak jika uap melewati massa yang berpijar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar