Sabtu, 19 November 2011

Tujuan dari Charging system

Tujuan dari Charging
system ini pada dasarnya
adalah untuk melakukan
pengecasan ulang
terhadap daya aki yang
terpakai saat melakukan starter, menyalakan
lampu, dan aksesoris
lainya. Selain itu charging
system juga menjadi
sumber tegangan utama
saat mesin kendaraan hidup.
Charging system
merupakan sistem pada
kendaraan yang tidak
terlalu berkembang dalam
artian tidak begitu banyak mengalami perubahan
dari dulu hingga
sekarang.
Charging system bekerja
dengan cara :
Merubah Energi mekanik (putaran pulley yang di
hubungkan oleh v belt ke
crank saft) menjadi Energi
Elektrik.
Komponen utama
Charging system Komponen utama dari
Charging system antara
lain Aki, Alternator,
Voltage Regulator.
Sering kali kita menvonis
aki kita rusak, sebenarnya belum tentu aki kita
tersebut sudah rusak
apalagi untuk aki yang
masih berumur di bawah
8 bulan..kemungkinan
kecil untuk rusak. Bisa saja aki mengalami discharge
yang sangat besar karena
tidak normalnya Charging
System kita. Apabila tidak
adanya pengisian oleh
Charging system..maka daya dari aki akan
terkuras dan lama-lama
akan habis terpakai.
(menghidupkan koil,
lampu, komputer, dll). Jika
sudah habis maka mobil kita akan
mogok ...Sebenarnya aki
ini masih bisa dipakai jika
kita melakukan charge
ulang dengan
menggunakan battery charger....
komponen Charging
system lainya yaitu
Alternator.(disebut juga
dinamo Ampere).Yaitu
sebuah generator yang menghasilkan arus AC
(Alternating Current),
Namun arus AC ini segera
dirubah menjadi DC(Direct
Current) oleh alternator
itu sendiri. Sebab pada kendaraan (mobil pada
umumnya) menggunakan
aki 12V DC.
Voltage Regulator : Fungsi
dari voltage regulator
adalah sesuai dengan
namanya mengatur tegangan agar output dari
alternator berada pada
kisaran 13,5volt sampai
14,5 volt...agar tidak
merusak komponen
elektrikal pada kendaraan. Pada awalnya pengatur
tegangan ini ditempatkan
terpisah dengan
alternatornya berupa Cut
Out..tetapi sekarang
seiring dengan kemajuan teknologi fungsi dari
pengatur tegangan ini
sudah dapat di bentuk
dengan modul ic yang
kompak sehingga bisa di
letakan didalam alternator itu sendiri.Pengisian pada kendaraan
dapat dianalogikan
dengan aliran air. Aliran
air untuk mengisi sebuah
ember kosong akan cepat
apabila selangnya cukup besar dan juga tekanan
dari air tersebut cukup
kencang. Namun tekanan
yang terlalu kencang
dapat menjebol
sambungan2 selang dan juga ember itu sendiri.
Demikian halnya dengan
Pengisian pada
kendaraan. Tegangan atau
Voltage dari charging
system mirip dengan tekanan pada air...dan
selang yang digunakan
adalah kabel pengisian.
Sedangkan ember
penampung air dalam
charging system adalah Aki. Terlalu besar Voltage
dapat merusak komponen
kendaraan seperti aki,
computer, dan lain-lain
(merupakan tugas dari
voltage regulator untuk menahan agar ini tidak
terjadi). Agar pengisian
aki dapat berlangsung
cepat maka hambatan
pada kabel harus
seminimal mungkin dan arus pengisian (ampere)
yang cukup deras.
Ketika kendaraan melaju
dengan kencangnya
kemungkinan output
tegangan dari alternator akan semakin meningkat.
Seiring dengan itu maka
voltage regulator
mengurangi kekuatan
magnet dari alterntor
sehingga secara otomatis output dari alternator
menjadi berkurang juga.
Kerusakan-kerusakan
yang mungkin terjadi
Kemungkinan
kemungkinan kegagalan dari charging system
antara lain :
1. Kegagalan pada
Alternator (dinamo
ampere) itu sendiri
seperti : Rusak nya salah satu dari
tiga gulungan. Sehingga
output yang dihasilkan
menjadi 2/3 dari output
seharusnya. Masalah
seperti ini sangat jarang terjadi dan sangat sulit
untuk cepat dideteksi.
Sebab gejala kerusakan
akan terasa apabila kita
menggunakan seluruh
aksesoris kendaraan secara bersamaan. Seperti
mengendarai dimalam
hari dengan lampu, AC,
Tape, Defogger, fog lamp,
wiper pada kondisi hidup
mungkin baru akan terasa ..ketika wiper
melambai, head lamp ikut
mengedip atau main. Nah
ini kemungkinan salah
satu dari 3 gulungan
putus. Rusaknya salah satu diode
dari 6 diode rectifier :
Gejalanya sama percis
dengan gejala diatas.
Rusaknya Voltage
Regulator : Hal ini ditandai dengan cepat putusnya
komponen-komponen
electrical anda seperti
bohlam, dan komponen
lainnya. Selain itu timbul
bau asam menyengat dari aki karena penguapan
yang begitu besarnya. Hal
ini harus segera diperbaiki
karena selain merusak
komponen electrical yang
lain juga dapat merusak Aki.
Suara berisik hingga
macet : Suara berisik yang
mungkin timbul dari
alternator adalah karena
adanya komponen bearing alternator yang
sudah macet atau rusak.
Sehingga saat alternator
berputar dengan kencang
akan terdengan suara
gemuruh bahkan kalau sudah parah akan timbul
macet pada rotor dinamo
ampere sehingga tidak
terjadi pengecasan sama
sekali.
2. Kegagalan pada wiring system seperti :
Medan magnet tidak
terbentuk : Ketika posisi
kunci kontak sudah pada
posisi on maka
seharusnya pada alternator sudah terdapat
medan magnet. Hal ini
dapat dijadikan dasar
pengecekan pertama pada
alternator anda. . Jika
tidak ada medan magnet maka dapat dipastikan
charging system tidak
bekerja dengan
sempurna. Hal ini dapat
disebabkan karena
adanya socket ke alternator yang lepas
(sering terjadi) selain itu
juga bisa diakibatkan
brush atau arang
alternator sudah habis.
Kabel pengisian utama (dari charging output)
korosi atau putus : apabila
kabel utama pengisian ini
putus maka Alternator
akan bekerja sia-sia, sebab
keluaran dari alternator tidak ditampung dengan
baik. Begitu pula jika
terjadi korosi pada kabel
pengisian utama
ini..misalnya dari charging
output terminal keluar 14 volt , karena korosi maka
yang sampai ke terminal
aki menjadi hanya 12,6
volt...sehingga pengisian
akan berkurang dan tidak
maksimal. Kabel Ground dari aki ke
Egine kurang baik atau
korosi : Sama halnya
dengan kabel pengisian
utama yang korosi, kabel
grounding dari terminal aki - ke engine yang
korosi dapat menurunkan
kemampuan pengisian.
Karena grounding
alternator mengambil
langsung dari body alternator yang di baut ke
engine. Sehingga apabila
grounding dari aki ke
engine kurang baik..maka
hasil dari pengisian
alternator juga akan berkurang.
Metode Pengecekan
Sederhana
Pengecekan Medan
Magnet
Seperti dijelaskan diatas, Cara pengecekan Paling
sederhana adalah dengan
merasakan apakah medan
magnet terjadi ketika
kunci kontak pada posisi
ON. Caranya dengan menggunakan Sebuah
benda logam besi seperti
obeng, atau
pisau...dekatkan pada
dinamo ampere ketika
kunci kontak pada posisi On (cukup pada posisi on
tidak perlu hidup mesin).
Apabila terdapat medan
magnet minimal anda
tahu bahwa wiring dan
alternator sudah benar. Tetapi apabila tidak
terdapat medang magnet
Segera cek wiring dan bila
perlu alternator.
Cara pengecekan dengan
Voltmeter 1. Ukur Voltase di kepala
aki + dan - saat mesin
dimatikan. catet.
2. Ukur voltase di kepala
aki + dan - saat mesin di
hidupkan. 3. Ukur voltase ketika
mesin hidup dari terminal
B ke bodynya alternator
itu sendiri.
4. Ukur Voltase ketika
mesin hidup dari terminal B ke kepala aki -
5. Ukur Voltase ketika
mesin hidup dari body
alternator ke kepala aki
jika hasil test nomer 4, 5
(lebih kecil dari nilai hasil
test nomer 3..) gagal maka ada kemungkinan
kabel ground atau kabel
dari pengisian utama dari
charging output
bermasalah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar