Rabu, 07 Desember 2011

PREVENTIVE MAINTENANCE


Melalui pemanfaatan prosedur preventive maintenance yang baik, dimana terjadi koordinasi yang baik antara bagian produksi dan maintenance, maka akan didapat manfaat:

1. Meningkatkan safety condition
2. Menurunkan down time
3. Meningkatkan umur peralatan
4. Kerugian waktu produksi dapat di perkecil
5. Biaya perbaikan yang mahal dapat di kurangi atau diperkecil
6. Interupsi terhadap jadwal yang telah direncanakan waktu produksi 
   maupun maintenance dapat dihilangkan atau dikurangi.

Baik bagian produksi maupun bagian maintenance mempunyai tujuan yang sama yaitu menghasilkan produk dengan kualitas baik dengan efisien dan biaya rendah.

Maintenance merupakan kunci untuk menjamin kelangsungan produksi dimana preventive maintenance merupakan sarana, baik untuk untuk bagian produksi maupun bagian maintenance untuk mencapai produksi yang pada tingkat biaya perbaikan yang minimum.

Sebenarnya, salah satu dari tujuan preventive maintenance adalah untuk menemukan suatu tingkat keadaan yang menunjukan gejala kerusakan sebelu alat tersebut mengalami kerusakan yang fatal.

Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membuat perencanaan dan penjadwalan kegiatan maintenance dengan interupsi sekecil mungkin pada bagian produksi.

Pada saat ini orang-orang bagian maintenance lebih menyukai melakukan pekerjaan yang terencana dan terjadwal dan menghindari pekerjaan - pekerjaan yang mendadak.

Oleh karena itu mereka berusaha meningkatkan daya guna dari sumber-sumber yang ada baik sumber daya manusia untuk memperpanjang umur peralatan produksi.

Berhubung dengan bertambah rumitnya dan mahalnya harga mesin-mesin baru maka dianggap perlu untuk memilki program-program maintenance yang terencana.

Sebetulnya tidak cukup dengan hanya menetapkan bahwa setiap mesin harus memiliki program pemeliharaan yang terencana untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan mesin, tetapi harus juga diadakan usaha untuk sedapat mungkin menghindari terjadinya interupsi-interupsi pada jadwal yang telah ditetapkan.

Hal ini dapat dilaksanakan dengan memusatkan perhatian pada unit-unit yang dianggap rawan atau kriris.


Suatu kualifikasi terhadap unit yang rawan didasarkan pada:

1. Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan keselamatan dan
   kesehatan pada pekerja.
2. Kerusakan dapat mempengaruhi kualtas produksi.
3. Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti.
4. Modal yang tertanam pada unit tersebut dinilai cukup tinggi.


Ini berarti perhatian terhadap preventive maintenance harus diarahkan secara menyeluruh dan terperinci pada unit-unit yang dianggap kritis saja.

Dengan perkataan lain, suatu unit dapat dimasukan dalam program kegiatan preventive maintenance apabila kegiatan ini dapat lebih menghemat biaya dibanding dengan biaya maintenance secara tidak teratur (random.) ini berarti biaya preventive maintenance harus lebih rendah dari pada biaya akibat terhentinya mesin, biaya perbaikan atau biaya penggantian dengan mesin baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar