Sabtu, 19 November 2011

FLANGE CONNECTIONS

Salah satu jenis sambungan pada sistem perpipaan (pipa dengan pipa/spooling, pipa dengan valves, pipa dengan equipment) adalah dengan menggunakan flange. Sambungan flange dibuat dengan cara menyatukan dua buah flange dengan menggunakan baut dan mur, serta menyisipkan gasket antara kedua flange.

Pemilihan material flange serta baut dan mur biasanya dilakukan dengan mengacu pada material pipanya seperti terlihat pada Tabel.1 dan 2. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kekuatan dari flange yang akan digunakan. Ketahanan dari flange terhadap tekanan adalah berbanding terbalik dengan suhu (pressure-temperature rating). Makin tinggi suhu makin rendah kemampuan flange untuk menahan tekanan.

Standar ASME B16.5 menjelaskan secara rinci bagaimana hubungan tekanan dan suhu. Untuk setiap grup material yang berbeda-beda, dikelompokkan pressure dan temperature rating kedalam klasifikasi yang berbeda. Klasifikasi ini adalah 150#, 300#, 400#, 600#, 900#, 1500#, 2500#. Table 4. diberikan untuk mencontohkan hal ini. Klasifikasi ini dipakai untuk mempermudah pengelompokan flange, sehingga tidak perlu membuat berbagai macam ukuran flange untuk setiap pressure-temperature tertentu. Berapa pun tekanan dan suhu kerja dari sistem perpipaan, selama masih berada di dalam batas-batas kelas tertentu, maka hanya perlu memakai flange kelas tersebut. Makin tinggi kelas flange makin berat dan tebal juga ukuran flange.

Pada perancangan perpipaan terdapat istilah “Flange as weakest part philosophy�. Istilah ini atau istilah full rating dipakai bila nilai pressure-temperature tertentu pada ASME B16.5 diambil sebagai MAWP pada sistem perpipaan tersebut. Dalam hal ini nilai MAWP tersebut juga berarti input tekanan (P) pada perhitungan ketebalan pipa. Mengingat bahwa biasanya ketebalan pipa/schedule (T) memiliki range kontingensi di atas nilai ketebalan pipa hasil perhitungan rumus (1), maka bila pada tekanan tiba-tiba naik di atas MAWP maka kebocoran akan terjadi pada flange terlebih dahulu, bukan pada pipa.

Di pasaran terdapat bermacam-macam jenis flange:

a. Slip-On Type Flange (SO).

Flange jenis ini memiliki ketahanan yang rendah terhadap getaran dan kejutan, serta konfigurasinya menimbulkan gangguan aliran di dalam pipa. Las-lasan bagian dalam cenderung lebih mudah terkorosi dibandingkan weld neck type flange.

b. Weld-Neck Type Flange (WN)

Tipe flange ini dipakai secara luas untuk berbagai aplikasi dan rating. Dibandingkan dengan SO flange, WN flange lebih tahan terhadap getaran, kejutan, geseran, impak, dan suhu tinggi. Lebih lanjut, konfigurasinya tidak menimbulkan gangguan pada aliran.

c. Lap-Joint Type Flange (LJ)

Flange jenis ini digunakan jika dengan pertimbangan ekonomis, material stub-end dan flange secara individual dibedakan. Jika saat installasi perpipaan pemasangan baut dan mur sulit karena keterbatasan ruang, LJ flange dapat dipakai.

d. Socket-Welding Type Flange (SW)

Biasanya flange jenis ini dipakai untuk perpipaan berdiameter di bawah 2�. Untuk lebih rinci bisa mengacu pada bagian socket-welding fittings.

Selain itu ada beberapa istilah lain yang sering dipakai terkait dengan jenis muka flange:

a. Flat Face Flange (FF)

b. Raised Face Flange (RF)

c. Ring Type Joint Flange (RTJ)

FF dan RF umumnya dipakai untuk rating rendah di bawah 600#. Sedangkan RTJ umumnya dipakai pada kelas di atas 900#.

Gasket yang umum dipakai adalah jenis spiral wounded gasket. Jenis ini menawarkan reliabilitas yang tinggi baik pada pemakaian umum maupun spesifik. Biasanya memiliki ketebalan yang berbeda tergantung pada tekanan kerja. Seiring dengan mulai dibatasinya pemakaian asbestos, PTFE (teflon) lebih banyak disukai sebagai pengisi pada spiral wound gasket. Pada industri kimia dan pemakaian umum gasket jenis asbestos, PTFE, dan NBR (nitril-buthyl rubber) masih banyak digunakan terutama untuk sistem perpipaan bertekanan rendah karena harga yang relatif lebih murah dari pada jenis spiral wound. Namun evaluasi terhadap ketahanan gasket tersebut terhadap suhu dan jenis fluida juga perlu diperhatikan.

Pada masa kini, hub-end clamp connector semakin banyak digunakan, meskipun teknologinya sudah ditemukan hampir 30 tahun yang lalu. Pemakaiannya masih terbatas pada subsea-pipeline. Hub-end clamp connector menawarkan banyak kelebihan dari segi penghematan tempat, berat (relatif kecil, kompak, dan hanya menggunakan 4 buah baut dan mur), waktu, dan potensi kebocoran, yang pada akhirnya akan menghemat biaya secara keseluruhan dibandingkan flange, terutama untuk flange pada perpipaan berdiameter besar dan bertekanan tinggi. Konfigurasi clamp connector dan seal ring memungkinkan sistem hub-end clamp connector menerima bending, torsion, tension dan compression yang lebih besar dari pada ANSI flange.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar