Selasa, 06 Desember 2011

Kode sae oli mesin

Kekentalan suatu oli mesin merupakan sifat fisik oli yg cukup penting. Namun terkadang masih banyak Otomania salah mengartikan kekentalan/SAE suatu oli mesin . Bahkan tdk jarang mitosnya lebih menonjol ketimbang faktanya!!
Salah satu fungsi utama oli mesin adalah untuk mengurangi keausan yang disebabkan adanya gesekan atau friksi antar dua komponen mesin yang bergerak. Makin kecil gaya gesek pada mesin, maka pelumasan semakin baik dan keausan semakin kecil.


Hal-hal yang perlu difahami tentang kode kekentalan/SAE oli mesin, antara lain;

- Kekentalan/SAE suatu oli mesin bukanlah ukuran mutu suatu oli . SAE hanyalah sebagai pembeda atau kelas2 suatu oli mesin berdasarkan tingkat sifat kekentalannya .

- SAE rendah (encer) tidak identik dengan mutu yg lebih baik dibandingkan yg kental. Demikian pula sebaliknya.

- Oli mesin encer relatif efisien dalam pemakaian BBM, namun relatif rendah pada perlindungan mesin . Demikian sebaliknya.

- Encer tidaknya suatu oli mesin sangat relatif. Untuk mobil-mobil modern dengan sistem kendali mesin otomatik (seperti VTEC, VVTi dsb.) dan jenis mobil-mobil sedan, Oli SAE 10w40 mungkin dapat dianggap oli mesin relatif kental. Tetapi untuk mobil-mobil lawas dan minibus, oli jenis itu terbilang encer .

- Makna sesungguhnya dari kode SAE suatu oli mesin bukanlah sekedar encer atau kental, tetapi lebih berkaitan pada kemampuan oli tsb. dalam beradaptasi pada kondisi suhu rendah dan tinggi.
Mis: Kode SAE 20W50, makna dibalik kode ini sebenarnya, suatu oli yg memiliki kemampuan (telah lulus uji) distarter pada suhu (minus) -10 C dan bisa dialirkan di dalam mesin sampai suhu -20 C dan memiliki batasan kekentalan tertentu pada suhu tinggi dan shear Rate tinggi (150 C) .
Untuk SAE 10W40 , lulus uji starter -25 C dan uji alir sampai – 30 C dan juga memiliki batasan kekentalan tertentu pada suhu tinggi dan shear Rate tinggi (150 C) .

Semakin kecil angka SAE dengan Huruf W semakin dingin suhu ujinya, dst.

- Oli mesin yang paling umum dipakai untuk kendaraan di negara Eropa/Amerika (negara dengan musim salju) adalah SAE 10W30 dan 5W30. Disini faktor pertimbangannya lebih pada kondisi iklim/suhu di negara, tsb. Kalau memakai oli , mis. SAE 20W50 , kemungkinan mobil sulit distarter, karena jenis oli tsb. bisa membeku pada kondisi dingin/bersalju .

- Untuk Di Indonesia, sejatinya, menurut lembaga API berapapun kode SAE bisa dipakai. Umumnya untuk iklim di Indonesia tingkat SAE 20W50 dan 10W40 bisa menjadi pilihan. Namun untuk performa/kinerja mesin-mesin modern, oli - oli lebih encer menjadi layak dipertimbangkan.

- Hasil pengujian pada berbagai tingkat kekentalan (SAE) oli mesin, menunjukkan bahwa tingkat kekentalan oli hanyalah salah satu faktor yang menentukan pada besarnya gaya gesek atau pada optimalnya perlindungan mesin kendaraan. Besar-kecilnya Gaya gesek atau ausnya mesin juga dipengaruhi oleh kandungan senyawa/bahan (formula) yang ada pada oli tsb (baca : aditif). Artinya, SAE 20W50 bisa jadi memiliki gaya friksi (gesek) lebih kecil dibandingkan tingkat SAE 5W50, bila formula aditifnya lebih baik dari SAE 5W50.

- Tingkat kekentalan (SAE) sesuai rekomendasi buku manual kendaraan, pada umumnya cocok untuk mesin kendaraan yang relatif mulus. Sedangkan mesin yang sudah berumur, akan lebih bijak untuk memakai SAE lebih tinggi lagi. Kalaupun tetap ingin memakai oli mesin sesuai rekomendasi buku manual, masa pemakaian oli , mesti diperhatikan.

- Mesti diingat , bahwa Kode SAE , bukan cuma sekadar beda kekentalan semata Beda kode SAE beda pula komposisi kimia suatu oli mesin. Beda formulasi oli mesin, jelas, akan beda pula kegunaan dan kinerjanya dalam mesin. Nah hal yang satu ini , biasanya tidak banyak yang memperhatikan .

Untuk oli mesin kode SAE 20W50 misalnya, mengandung aditif Peningkat angka Viskositas Indeks (VI), lebih sedikit ketimbang kode SAE 10W40 ataupun 10W30. Aditif PVI merupakan senyawa kimia rantai panjang (polimer), yang ditambahkan dalam oli mesin agar oli tersebut tidak mudah encer meski ada pengaruh suhu tinggi dalam mesin. Namun aditif ini memiliki kelemahan yakni relatif sensitif dan mudah pecah rantai molekulnya pada kondisi gesekan dan stress tinggi. Kondisi ini biasanya terjadi pada jenis mesin-mesin motor bebek nonskutik, -yang menggabungkan sistem pelumasan mesin dan transmisi ataupun kondisi tekanan tinggi pada mesin disel. Jadi sebenarnya, semakin banyak kandungan aditif ini dalam oli , semakin besar kemungkinan oli tersebut ini mudah menjadi encer karena pengaruh kondisi mesin diatas tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar